RSS

RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU ~ SEBUAH KISAH TENTANG POLESAN IRI HATI

02 Jul

Barusan (tanggal 02/07/2011 pukul 00:06) aku tertegun oleh sepotong iklan dengan setting sebidang lapangan dengan rumput hijau yang agak menguning dibatasi pagar agak tinggi dan sekelompok kambing yang sedang asyik menikmati rerumputan. Tiba-tiba salah satu kambing mengintip rumput di bidang lapangan sebelah melalui pagar, lalu kambing itu mengajak teman-temannya untuk menyeberang pagar dan menyantap rumput yang tampak lebih hijau tersebut; namun ada seekor kambing yang tidak mau dan dia tetap makan rumput di lapangannya sendiri. Ketika mereka sampai di seberang mereka hanya mendapati rumput plastik yang menghijau.

Kita sering melihat teman atau kolega kita yang tampak begitu angkuh dengan eksistensinya, lalu terbersit di dalam hati kita rasa tidak suka. Sebenarnya rasa tidak suka itu muncul karena rasa iri hati berlebihan yang terpoles apik. Wah, ‘terpoles apik’ ? Ya, terpoles apik ! Apakah maksudnya ? Maksudnya demikian; kita yang memperoleh didikan intensif tentang moral tentu dilatih oleh indoktrinasi bahwa rasa iri hati berlebihan itu sangat buruk dan merusak – dan memang demikian – namun sejauh mana kita mampu mengendalikan rasa iri hati itu ? Tak ada yang tahu, bahkan diri sendiri pun tidak.

Tuhan memberikan banyak talenta kepada setiap manusia dan talenta-talenta itu unik. Mungkin dari talenta-talenta itu dapat menunjukkan suatu penampilan yang megah menurut pandangan umum, katakanlah beberapa contohnya adalah kekayaan dan kecerdasan. Pandangan umum publik mungkin akan memberikan apresiasi rasa kagum kepada hasil talenta-talenta itu, namun jika keadaan itu terjadi pada orang-orang yang kita kenal mungkin kita tidak memberi apresiasi kagum; alih-alih kita malah mengumpat mereka dalam hati atau bersikap sinis kepada mereka. Nah keadaan inilah yang saya sebut “rumput tetangga lebih hijau” .

Orang-orang yang kita kenal, entah tetangga atau teman mungkin bagi kita tampak lebih baik, lebih sukses, lebih kaya, lebih tampan, lebih cantik, lebih atletis, lebih cerdas, dll dan hal-hal tersebut lantas membuat kita iri hati, sayangnya kita telah dididik secara intens bahwa iri hati itu buruk, akhirnya yang muncul adalah rasa tidak suka; dan jika kita ditanyai mengapa kita tidak suka maka mulailah kita mencari-cari watak buruk atau sikap buruk dari orang-orang tersebut. Pada titik inilah kita perlu introspeksi: “Apakah benar kita sudah mampu mengendapkan rasa iri berlebihan itu ?”

Sebenarnya kita tidak perlu mengembangkan sikap ‘tidak suka’ jika kita pun sudi menyadari bahwa kita mempunyai talenta-talenta yang unik dan berbeda dengan orang-orang yang kita benci itu, dan talenta-talenta unik tersebut bisa kita kembangkan sejauh mungkin.

~ Barekhmor~

Sumber inspirasi:

Matius 25: 14-30

by Iman Katolik on Saturday, July 2, 2011 at 1:10am

 
Leave a comment

Posted by on July 2, 2011 in Article

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: